Showing posts with label map. Show all posts
Showing posts with label map. Show all posts

Friday, December 29, 2006

Cikole Jayagiri 23 December 2006




"Kalo hujannya lebat kayak gini, besok sepedaannya tetap jadi, Kak?" begitu pertanyaan Arin istriku sewaktu kami bertiga (gue, Arin, & Sophie si kecil) menembus hujan lebat di tol Cipularang sehari sebelum genjot. Gimana gak grogi, jam 5 sore serasa jam 8 malam saking lebatnnya hujan. Angin kencang bertiup dan lampu mau gak mau harus dinyalakan. Tapi gue dengan pedenya menjawab: "Jadi dong Bunda, kalo ini mah gak ada apa-apanya". Hehehe, padahal sebenarnya hati ini ciut juga ngeliat alam yang sedang bergejolak. Apalagi track yang bakal dilalui adalah di sepanjang kaki Gunung Tangkuban Perahu. Hiiii, serem.

Yah udah, besoknya tepat jam 7 pagi gue keluar dari hotel dengan perlengkapan siap tempur. Gak lupa jemput Alif di Tikukur yang kebetulan lagi cuti dan pengen ikutan genjot. Rencananya sepeda di pinjemin teman-teman BAMs (thanks Kang Anto atas pinjaman sepedanya). Abis jemput Alif, kami sarapan Ketupat Sayur Padang rasa Sunda kemudian baru ke Babakan Siliwangi. Cuman sayangnya teman-teman yang tembak langsung dari Jakarta pada belum datang. Kata Cheppy arus lalulintas lagi rame banget akibat long week end. Malah rombongan Tony dan Cak Nur kena hambatan di jalan, radiator mobilnya bocor jadi mesti minum setiap beberapa menit.


Sok-sokan Nge-DH Dengan Setting XC

Sehabis semuanya sepeda di loading, perlengkapan dicek ulang lagi, GPS disetup aquired satelitnya, rombongan akhirnya berangkat juga. Kali ini cukup rame, rombongan Jakarta aja ada 30 sepeda. Ditambah BAM, Zero Two Two, dan JDC mungkin totalnya bisa 50-an lah. Pasukan berangkat jam 10.15 (akhirnya) dengan 4 pickup pengangkut sepeda plus 1 pickup yang khusus ngangkut orang. Nggak lewat Setiabudi, kata si Kumis mending lewat Dago Pakar biar gak kejebak macet. Tiba di Cikole jam 11-an dan langsung re-loading di track Cikole paling atas.

Cuaca cukup mendukung, belum hujan tapi track agak basah akibat siraman malam sebelumnya. Ternyata diujung track teman-teman atlit Pengda Jabar juga sedang latihan dipimpin oleh Om Chandra. Dengan sedikit paksaan, Om Chandra didaulat untuk memberikan sedikit tips & tricks melewati track DH di musim hujan. Gue sebenarnya malu juga karena salah kostum. Seharusnya pake setting DH, setidaknya AM lah, eh ini hanya pake XC rig. Apalagi si Alif, sepeda pinjamannya pake flat bar, sangat jauh dari proper rig buat medan ini. Tapi gak apa-apalah, seperti biasa diniatkan buat nyoba track ajalah. Kalo ada yang extreme cukup TTB lah. Cuman kasihan dengan para atlit, speed mereka gak bisa kencang-kencang karena buanyak si komo yang lagi TTB, heheheh. Foto di samping adalah Om Toni Raja Minyak yang lagi in action dengan helm TRD merah dan wheelset DT Swiss merah juga :)

Tracknya sangat terpelihara, mungkin karena jadi ajang atlit latihan. Berm dan obstacle yang ada cukup variatif. Slope gak seterjal dibanding track Gunung Pinang di Cilegon, cikole mungkin 60-80 % lah kemiringannya. Kami aja yang kurang pede, ditambah ban yang salah kostum juga (gak ngegigit sama sekali). Beberapa genjoter udah jumpalitan sebelum separuh jalan. Ada juga yang udah kayak robocop dengan full face helm dan full body protection tapi masih aja TTB. Maklum, kebanyakan emang MTB Logay, loba gaya hehehehe. Akhirnya track yang biasanya ditempuh selama 5 menit menjadi sekitar 15-20 menit. Apalagi ada beberapa genjoter yang sibuk gaya kayak foto model salah kostum, gak mau kehilangan momen di track :)


Gue akhirnya nyoba 2 kali track Cikole 1 dan 2, soalnya ban udah keburu jadi donat gara-gara hujan yang membasahi tanah dan membuatnya makin liat. Teman-teman yang lain ada yang sampe 4 kali, kalo gak dibatasin mungkin sampe mabok kali naik turun track ini. Jam 14.00 diputusin untuk udahan karena mo lanjut ke Lembang makan siang.

Cikole Lembang via Jayagiri 2

Setelah bersusah payah ngumpulin gerombolan acak adul ini, akhirnya jam 14.30 rombongan bergerak turun. Track yang dipilih oleh teman-teman BAM adalah Jayagiri 2. Lumayan juga, berbatu seperti track di Puncak Bogor tetapi slope-nya lebih terjal. Yang pake full suspension mungkin bisa turun sambil bersenandung, tapi tidak buat pemakai hardtail karena mesti mengatur sepedanya dari goncangan. Sempat nunggu bentar di warung (tapi gak ada yang nunggu) buat nungguin rombongan yang tertinggal di belakang, sambil foto-foto narsis.

Setelah ngumpul lagi, baru deh dikebut turun. Yang ini juga masih berbatu, sesekali track tanah. Maklum dulunya kan akses ke perkebunan dimana jalannya hanya ditutup batu tanpa di aspal. Hati-hati dengan beberapa perpotongan track. Kalo gak hafal bisa-bisa tersesat dan keluarnya bukan di Lembang. Tapi sebenarnya sih gak perlu takut karena toh tembusnya di jalan raya Lembang - Cikole juga, jadi kalo tersesat tinggal ngikutin jalan raya aja ke arah Lembang.

Tiba di Lembang waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Ayam Goreng Brebes yang jadi korban kali ini menjadi riuh rendah akibat puluhan genjoter yang nggak bisa diam walaupun mulut sudah disumpal dengan makanan. Bayangin, hampir 40 orang datang serentak, kotor, dan ribut pula. Siapa yang tak gentar menghadapi gerombolan ini kekekeqqq.

Lembang - Dago via Maribaya

Jam 16.00 tepat, perut kenyang dan hati riang :) Tapi masih ada PR karena mesti balik ke Bandung lagi. Aldi BAM yang menjadi captaint kali ini mengajak turun lewat Maribaya dan langsung disetujui oleh semua genjoter. Dari Lembang ke Maribaya 100 % on road, melewati jalan raya Gunung Batu, 80 % turunan selebihnya tanjakan yang masih genjotable lah. Sebelum pintu gerbang Maribaya, berbolek ke track off road (berbatu) yang merupakan jalan tembus ke Dago Pakar. Track batunya hanya pendek sampai jembatan, selebihnya paving block sampai ke gue Jepang. Gak kebayang kalo genjot dari Dago Pakar ke Maribaya, pasti jadi Ngehe' kuadrat saking panjang dan tingginya.

Karena habis hujan, perlu ekstra hati-hati meliwati paving block yang sudah mulai berlumut dan basah. Bisa-bisa nyungsep ke sungai Cikapundung kalo gak eling genjotnya. Pas nemu gue Belanda (sebenarnya gue Jepang ato Belanda sih?), kembali lagi semua bergaya bak peragawan dan pragawati. Berlomba-lomba ngambil pose buat di foto. Padahal kalo ingat umur pasti malu sendiri lah.

Dari Dago Pakar ke Babakan Siliwangi totally on road lewat Dago Juanda. Sempat juga bernostalgia ngeliat kos-kosan gue dulu di Dago Barat yang sudah mulai padat dengan warung dan angkot. Akhirnya jam 17.30 rombongan sampai di Babakan Siliwangi, disambut dengan hujan yang derasnya minta ampun seperti yang dibayangin istriku sehari sebelumnya. Benar kan, gak perlu apriori di awal tentang cuaca. Buktinya selama perjalanan hujannya cuman di awal dan di akhir trip, dan semuanya happy bisa genjot di kaki gunung Tangkuban Perahu. Thank a lot BAMer's, we do appreciate your kindness...




Sunday, December 17, 2006

Enhance Your Genjot Story with Google Earth

Apa saja yang anda pernah lakukan dengan Google Earth? Bisa ngeliat bentuk rupa bumi seperti astronot di luar angkasa. Atay seperti pilot pesawat terbang yang sedang ngintip atap rumah kita di ketinggian 1000-2000 meter. Contohnya gambar disamping, menunjukkan lokasi kantor gue. Bisa ketebakkan daerahnya :)

Selain itu apalagi? Apa bisa membantu aktifitas genjot kita? Jawabannya: "So Pasti bisa". Seperti yang sudah sering gue lakukan dan posting di blog ini. Kita bahas agak detil aja yah.

Overlay Your GPS Track

Apa peralatan yang dibutuhkan? So pasti GPS dong. Pake GPS yang punya capability untuk merekam track. Gimana cara taunya, yah baca spek-nya sebelum beli ato menggunakannya. Kalo Garmin, bisa pilih minimal eTrex Legend atau Vista, bisa yang hitam putih atau berwarna juga OK. Tapi jangan pake yang versi eTrex doang karena gak bisa nge-upload atau download peta. Kalo pake GPS Magellan, setidaknya pake tipe Explorist. Google Earth sampai saat ini hanya men-support Garmin dan Magellan. Kalau merk lain gue belum pernah nyoba, mungkin bisa kali kalo setting-nya dibuat seperti Garmin ato Magellan.

Softwarenya bagaimana? Agar bisa meng-upload track yang sudah terekam di GPS, Google mensyaratkan menggunakan versi bayarnya, Google Earth Plus dan atau yang Pro. Keduanya mendukung fungsi transfer data dari GPS ke komputer. Cuman sayangnya hanya bisa satu arah, transfer data dari komputer ke GPS belum bisa dilakukan dengan Google Earth.

Bagaimana cara mendownload data dari GPS? Just follow step-by-step di bawah ini:
  1. Sambungkan GPS ke komputer, bisa pake USB atau serial cable tergantung jenis GPS-nya.
  2. "On"-kan GPS, tidak perlu menunggu GPS mencari satelit seperti ketika sedang di lapangan
  3. Di "tools" menu, pilih "GPS" dan akan muncul windows seperti gambar di bawah
  4. Pilih GPS Manufacture yang sesuai (garmin atau Magellan)
  5. Pilih data yang akan di-download/import
  6. Pilih drawing preferences. Secara default, tracks dan route diset sebagai garis tetapi anda bisa mensetnya sebagai icon
  7. Atur pengaturan ketinggian (altitude). Bila yang dipilih adalah "Adjust altitude to ground height", semua titik yang ada di track atau route akan diset ke 0 m (permukaan air aut). Jika tidak, data ketinggian yang dipakai adalah data yang ada di GPS.
  8. Ketik OK dan data anda sudah ada di screen google earth.
Add Additional Features

Ada bisa menambahkan digitized track pada map yang sudah ada. Misalnya ingin menambahkan jalan raya biar bisa tampil dengan GPS track yang sudah ada. Caranya klik menu "Add", klik "path", dan mulailah membuat track yang diinginkan dengan menggunakan mouse.

Selain track, bisa juga menambahkan suatu area, misalnya danau. Tinggal clik "add polygon" dan silahkan trace danau yang akan di masukkan ke map.

Contoh di bawah adalah contoh track yang ada di hutan UI dilengkapi dengan beberapa additional features mencakup: single track, UI ring road, dan beberapa point of interest.

Thursday, December 14, 2006

Tajurhalang Gunung Salak


Tadi pagi terima email di milis ngajakin genjot di Tajurhalang, kaki Gunung Salak sebelah Utara. Terus keingat, kayaknya gue punya track map-nya tapi belum pernah diposting di sini.

Track ini sebenarnya baru sekali gue lalui di awal tahun 2006. Waktu itu bareng anak-anak H4 (hahahihi): Kur, Eko, Tony, JT, Pu3, Arya, Edy, Bucan, dll. Janjian ngumpul di Bank Lippo depan Istana Bogor terus naik naik angkot ke arah Cijeruk. Entar di pertigaan Cijeruk minta si angkot masuk ke arah desa Tajurhalang, terus sampe mentok di dekat kebon teh. Dari situ mulai deh meluncur.

2 km pertama nanjak dulu ke pucuk kebon teh, dari situ baru downhilling ngikut single track di sela-sela kebon teh terus sampai ke desa Tajurhalang. Sampai di sekitar baling-baling bambu kudu nanya ke penduduk biar gak masuk ke track onroad Cigombong-Bogor. Untung ada Kur yang mimpin rombongan, doi lumayan sering maen di sekitar daerah ini jadi cukup ngerti lah daerahnya. Nah, dibawah ini para genjoter lagi mejeng. Eh lupa, ada Heru Tebet ternyata.


Genjot keluar masuk desa dan akhirnya keluar di Cijeruk Hilir. Terus masuk kompleks yang namanya gue lupa (ada portal) nanti nembusnya di pinggir anak sungai Cisadane. Masuk jalan desa lagi, eh nongolnya di perumahan elit yang namanya gue lupa juga. Dari sini udah masuk daerah kota Bogor, tinggal genjot ke arah Istana Bogor. Jangan lupa mampir makan ayam goreng yang banyak bumbunya, dimasak a la Sunda.

Silahkan click peta di bawah untuk map detailnya.

Tajurhalang North
Tajurhalang South

Monday, November 20, 2006

Gunung Palasari - Manglayang, 18 November 2006



Pernah gak ngerasain tangan udah pegel banget nahan handle bar saat downhilling padahal turunannya belum abis-abis juga. Kalo belum, cobain deh track full DH di kaki gunung Palasari Bandung Timur. Tracknya edan pissaaannn, ada 3 session DH track ditambah dengan track menurun yang penuh dengan technical. Biar lengkap kayak STMJ, tersedia tanjakan buat para penikmat uphilling.

Sebenarnya ajakan genjot di Manglayang ini udah datang sejak bulan puasa oleh dedengkot Roger Bagen, Kang Aris Roger-03. Siapa sih nggak ngiler ngeliat foto-foto yang diposting di salah satu thread di Sepedaku.com. Akhirnya disepakati untuk melakukan napak tilas trip di kaki Gunung Palasari-Manglayang, apalagi ditambah bumbu-bumbu turunan yang lezat dan aduhai.

Tepat jam 04.55 gue udah ngambil tiket tol Bintaro, bergerak cepat menuju Bandung. Jam 07.15 udah di Babakan Sukatma Cicaheum tempat parkiran mobil, lebih cepat dikit dari yang punya gawe. Namanya juga undangan, kudu lebih sigap toh:) Sambil nunggu genjoter yang lain, nyari nasi kuning dulu ah. Ternyata banyak juga peserta trip kali ini. Pasukan inti adalah barudak Terjal (Telusur Jalur Liar), komunitas pencinta MTB di seputaran Cicaheum. Mereka ber 20-an orang ditambah Roger Bagen (Rombongan Graha Bareng-bareng Genjot) 2 mobil, Jhoni Qesrek, gue, dan 4 orang dari Geger Kalong. Track sepenuhnya adalah hasil survey teman-teman Terjal.

Nanjak Dulu, Baru Turun

Sesuai rencana semula, sepeda diangkut dengan Colt ke Caringin Tilu, tempat start trip ini, melewati Padasuka - Pasir Layung sampai nun jauh ke Utara. Ada aja yang iseng genjot ke sana. Walaupun on road tapi nanjaknya minta ampun. Daeng Nahar dan Pak Joko yang terkenal dengan tim Panjat Pinng tidak mau kalah dengan barudak Terjal yang emang setiap trip pasti genjot ke atas. Walhasil Pak Joko berhasil sampai duluan dan Daeng Nahar terpaksa dievakuasi pake mobil. Salut buat barudak Terjal yang dengan tenang menikmati tanjakan ini.

Setelah briefing dan berdoa, perjalanan dimulai. Tidak tanggung-tanggung, awalan tanjakan sepanjang 1,5 km harus ditempuh untuk bisa menikmati downhill yang pertama. Setiba di tempat start DH, ternyata baru sadar kalo lokasi ini sangat dekat ke Cibodas - Lembang, suatu dataran subur di Timur Maribaya tepat di Utara Patahan (sesar) Lembang yang terkenal itu. Wah, lain kali mesti dicoba genjot dari Cibodas aja, mobil bisa masuk koq lewat Maribaya.

Satu per satu genjoter melaju turun di track DH pertama ini. Tracknya gak terlalu panjang, mungkin hanya beberapa ratus kilometer, tapi cukuplah buat membalas tanjakan di awal trip. Cuman sayang track-nya tidak steril dari Offroader Motocross, ditambah dengan track yang berdebu karena ternyata di Bandung udah lama nggak turun hujan. Dipertigaan Cibodas - Oray Tapa, Kang Ricky sempat mengabadikan laju turun genjoter dengan Handycam.

Ternyata turunannya lanjut lagi 2 km lebih, semuanya di bawah kerindangan pohon pinus. Hati-hati dengan v-groove di sepanjang track. Kalo nggak hati-hati bisa bikin nyungsep. Mudah-mudahan ini bukan akibat ulah gerombolan motocross tapi lebih karena jalur air yang sejajar track. Selebihnya, turunan ini nikmat sekali. Bener kata Joni, bisa bikin orgasme kekekeqqq. Kenikmatan berakhir di pertigaan,ambil jalur ke kiri ke arah Oray Tapa. Kalo ke kanan bisa turun ke Padasuka lagi.

Turunan Kedua

Ke arah Oray Tapa, tracknya berubah dari single track menjadi jalan berbatu seperti track di Rindu Alam. Juga berubah dari turunan menjadi tanjakan, maklumlah udah diiming-iming barudak Terjal bahwa di depan ada turunan dasyat. Cuman koq tanjakannya panjang amat yah? Apalagi tepat di Pintu Gerbang Oray Tapa track berubah lagi menjadi single track yang berdebu. Untung di pertengahan punggungan pasukan berhenti untuk makan siang di Pondok. Salut buat barudak Terjal yang siap dengan dengan perlengkapan shalat, jadinya gue ikutan Dhuhur walaupun dengan bertayammum. Sebelum cabut dari Pondok, operasi semut dilakukan biar nggak ninggalin sampah. Sekali lagi two thumb ups buat Terjal, baru kali ini gue ngeliat komunitas MTB yang sangat peduli lingkungan.

Dari Pondok perjalanan menanjak dan menanjak. Waktu ditanya kapan tanjakannya abis, yang ditanya hanya bisa tersenyum. Rupanya emang tujuannya ke arah start turunan panjang. Jaraknya hanya 2-3 km tapi waktu tempuh bisa sejaman. Untung waktu ketemu hutan Pinus, penyiksaan ini berakhir. Tanjakan dibalas turunan panjang.

Track downhill ini cukup panjang, hampir sekitar 5 km. Dua kilometer pertama genjoter disuguhi speed DH di sela-sela pohon pinus. Sayangnya karena kemarau panjang, track menjadi berdebu dan harus jaga jarak biar gak mandi debu. Nah, di sini nih yang tangan pegel banget tapi turunannya gak abis-abis juga. Perlu istirahat beberapa kali biar tangan bisa recover mengontrol handlebar. Kalo kagak, bisa-bisa cengkaraman melemah dan bisa tahu sendiri lah kelanjutannya.

Habis istrihat sambil ngeliat beberapa barudak Terjal yang nyoba mau ngelompatin parit tapi batal, perjalanan lanjut lagi dan so pasti tetap downhill. Kemiringan makin terjal, malah sempat membuat beberapa genjoter keplanting. Gue sendiri gak sampe jumpalitan sih, tapi sempat pelipis nabrak ranting pas di samping ujung mata. Nggak kebayang deh kalo posisinya masuk dikit, bisa-bisa lebih fatal akibatnya.

Turunan Maut

Diujung track, genjoter disuguhin dengan turunan dengan kemiringan > 100%. Butuh nyali dan skill yang bagus. Pantat kudu ditaruh di belakakng banget, kalo nggak bisa mlejit ke depan. Panjang track turunan ini gak seberapa, mungkin seratusan meter.

Ada dua jalur paralel, yang pertama berbatu dan banyak tonjolan akar pohon. Yang kedua lebih bersih tapi banyak ada anak tangganya. Gue ngambil track yang kedua aja, yang penting lurusnya biar bisa ngontrol handle bar. Kalo track pertama mesti zig-zag menghindari batu dan akar. Two thumbs up sekali lagi buat barudak Terjal, handling manstaff banget euy. Nanjak OK, turunan juga OK. Hampir semuanya bisa ngelibas track pertama.

Untungnya lagi gue di rombongan awal, jadi pada gak tau kan kalo di ujung turunan gue sempat TTB hehehe. Coba belakangan, bisa-bisa ditontonin para genjoter yang udah turun duluan.

Puas dengan turunan maut, rombongan lanjut lagi dengan track on-road. Sempat sekali berhenti di warung desa Arcamanik dan dua kali nanjak di dekat galian batu. Waktu sudah menunjukkan jam 15.30, mudah-mudahan target untuk nyampe di parkiran jam 16.00 bisa kecapai deh. Kata barudak terjal dari Arcamanik setidaknya butuh 30 menit lagi. Bisa aja sih, asal gak ada tanjakan lagi :)

Turunan Kebon Jagung

Setelah bersusah payah nanjak setelah lokasi penggalian batu, track menjadi lebih asyik karena banyak technical skill yang dibutuhkan waktu melintasi kebon jagung. Single track yang sempit, berundak, kebanyak di atas pematang yang kalo salah sedikit bisa hilang keseimbangan. Sempat ada yang jatoh sekitar 3 meteran, untung jatohnya pas kaki duluan jadi gak cedera sama sekali. Track yang ini juga mesti ditemenin sama yang sudah hapal daerahnya. Kalo nggak bisa-bisa tersesat dan arahnya malah menjauhi finish. Untung pemandunya (barudak Terjal) udah hapal di luar kepala, jadi resiko tersesat menjadi kecil sekali.

Pas sebelum desa Cikadut, track ini ditutup dengan jalur curam dan berbatu tapi asyik buat yang bisa melewatinya. Kuncinya cuman satu, gunakan kedua rem dan jangan terpengaruh untuk meluncur kencang ke bawah. Selain itu posisi badan dijauhkan ke belakang seperti sebelumnya biar titik berat keseluruhan menjauh ke belakang juga. Dengan kecepatan yang bisa dikontrol dan titik berat berpindah ke belakang, Insya Allah kenikmatan track ini bisa dirasakan.

Sekali lagi rombongan beristirahat di desa Cikadut, ada warung es campur sih :) Padahal waktu sudah menjukkan jam 16.00, berarti target hanya meleset beberapa menit. Soalnya sehabis Cikadut jalurnya on-road dan menurun. Cuman perlu nahan nafsu bisa gak balapan on-road karena lalu lintas cukup ramai. Akhirnya pasrah aja beriringan saja.

16.15 tepat rombongan tiba di parkiran. Lega rasanya udah bisa nikmatin track yang lengkap. Ada tanjakan, turunan, turunan maut, technical, dan on-road. Apalagi lega karena bisa shalat dan disuguhin sirup dingin di rumah Kang Aris. Ternyata doi emang dari lahir besar di lingkungan ini, kelamaan dikit bisa jadi preman Cicaheum kali :) Heheheh becanda Om. Anyway, thanks for the best hospitality. Lain kali ajak-ajak lagi yah.




Thanks buat buat Barudak Terjal yang udah nemenin nanjak dan turun. Juga buat Roger-Bagen, terutama buat ajakannya dan foto-fotonya. Seperti biasa, silahkan akses track map di bawah.




Palasari North
Palasari South


Double click gambar di atas untuk untuk yang beresolusi tinggi.

Friday, October 06, 2006

Genjot di Hutan Jati Gunung Pinang Cilegon


Sebenarnya ini trip lama, cuman baru sempat nulis sekarang. Peta di atas adalah petunjuk arah ke Gunung Pinang. Silahkan di-klik untuk versi gedenya.

Beda rasanya genjot di hutan jati Cilegon Timur dibanding Puncak atau Gunung Salak. Di sini tracknya variatif sekali. Ada track DH yang terjal dan ada pula XC yang menantang dengan beberapa obstacle yang membuat adrenalin terpompa keluar. Selain itu, klimat-nya juga berbeda. Panas tapi gak kepanasan :)

Sabtu 5 Agustus 2006 jam 06.00 pagi jemput Mbak Scarlett O'Hara di Bintaro Plaza, terus sarapan bentar lalu ngejar rombingan Om Devin yang udah meluncur di tol Jakarta - Merak. Di tengah jalan nyalip rombongan Pak Eko dan Ferry Orang Hutan beserta para downhillers. Sekitar jam 07.30 akhirnya tiba juga di pintu tol Cilegon Timur. Di sana sudah menunggu Pak Didi dari Komunitas MTB Cilegon dan rombongan Om Devin. Langsung deh meluncur ke lokasi yang berjarak sekitar 4 km dari pintu tol. Dari kejauhan terlihat bukit hutan jati yang ditandai dengan menara Telkom di Puncaknya. Sempat ciut juga karena kebayang bakal nanjak mendaki bukit tersebut.

Ternyata gue dan mbak Scarlett gak telat-telat amat. sekitar 30 menit kemudian rombongan Gading Serpong (minus Ietjung yang lagi genjot di UI) dan Karawaci pada berdatangan. Rame juga jadinya, mungkin ada sekitar 20-an orang yang bakal mencicipi track hutan jati ini. Tuan rumah menawarkan apakah mau mencoba track DH atau XC. Hampir semuanya milih ke DH dulu biar bisa nyoba semua track. Sehabis Safety Briefing dan berdoa, akhirnya petualangan dimulai juga.

Track DH

Track ini dimulai dari puncak bukit di dekat menara Telkom. Nah untuk ke titik itu perlu perjuangan. Para genjoter disuguhi pemanasan yang lumayan "panas" karena harus genjot nanjak sepanjang 2 km. Dan parahnya lagi, nanjaknya onroad di atas aspal. Sekitar 500 m dari pintu gerbang ketemu dengan persimpangan track XC. Banyak genjoter yang goyah imannya untuk tidak lanjut ke track DH tetapi langsung mencoba track XC. Sebagian besar tetap lanjut ke rencana semula menuju ke menara Telkom. Lumayan berat juga walaupun di atas aspal, untung jalannya ditutupi oleh kanopi hutan jati yang rindang. Lagi hot-hotnya genjot, eh para downhiller lewat diangkut pake pickup ke titik start. Curang ini namanya... :) Atau mungkin cara ini yang lebih cerdas kalee. Lain kali mending minta diangkut pake mobillah ke puncak bukit yah.

Surprise juga setibanya di titik start. Ternyata di sana sudah tersedia panggung start semi permanen kemudian beberapa gundukan tanah dan berm yang sudah disiapkan tuan rumah. Beberapa DH-ers mencoba suguhan tuan rumah meloncati rintangan yang ada. Setelah puas, giliran XC-ers yang langsung mencoba track. Sekitar 50 m setelah start, genjoter langsung disuguhi track yang menurun, berbatu, campur dengan licinnya guguran daun jati. Diperparah lagi dengan kondisi track yang kering sehingga banyak batu/tanah lepas yang membuat handling sepeda harus lebih manstaff. Kalo nggak bisa nyungsep ke semak ato nabrak pohon.

Setelah itu genjoter disuguhi dengan medan yang slopenya > 100 %. Bagi yang travel forknya gak sepanjang DH-ers, mau gak mau harus TTB termasuk Devin si raja XC. Speed berubah dari 40 km/jam menjadi hampir 5 km/jam sambil bergelayutan di pepohonan biar gak ngegelosor. Kalo gejoter yang pake setting DH mah gak perlu turun, turunan ini dilalap dengan lahap oleh mereka.

Setelah berjibaku dengan turunan terjal ini, selanjutnya lintasan lebih genjotable. Lebih landai dan penuh rintangan yang lumayan butuh skill untuk melewatinya. Genjoter yang tadinya sibuk memegang sepeda berubah menjadi sibuk menggenjot dan sesekali ber-bunny hop kecil melintasi rintangan. Di persimpangan track DH dan XC berhenti sebentar untuk merapatkan barisan sekalian menghela nafas sejenak. Perjalanan dilanjutkan ke jalur DH menuju ke perumahan Pejaten Mas(Cilegon). Sengaja gak masuk ke jalur XC karena setelah finish mau naik lagi untuk nyoba trek XC.

Keluar dari hutan panas Cilegon baru terasa menyengat tubuh. Untung hutannya rimbun, kalo gak bisa kebayang DH sambil panas-panasan. Dari perumahan sepeda digenjot onroad ke arah finish di kantor Perhutani yang notabene juga menjadi tempat start.

Track XC

Track XC ini startnya 300 meter dari pintu gerbang kawasan Gunung Pinang, ditandai oleh papan penunjuk arah track di sebelah kiri jalan. Track ini sebelumnya adalah jalan setapak pengawasan hutan jati, kemudian diperluas/diperbaiki oleh teman-teman Komunitas MTB Cilegon sebagai track XC. Two Thumbs Up buat mereka.


Track didominasi oleh track tanah dengan beberapa rintangan yang sangat menantang. Ada jembatan bambu dan beberapa gundukan DJ yang handicap-nya cukup berat. Walaupun di tracknya tanah, tetap mesti berhati-hati kalau kebetulan banyak daun jati yang menutupi track. Ban bisa slip kalo kebetulan melintasi guguran daun jati. Mungkin di musin hujan juga agak berlumpur, tapi saat gue di sana tracknya lagi kering banget. Maklum masih di pertengahan musim kemarau. Di tengah track terdapat persimpangan ke arah track DH. Untungnya papan penunjuk arah yang dibuat teman-teman Cilegon cukup lengkap sehingga tidak membingungkan genjoter. Mungkin ini track yang paling informatif yang pernah gue genjoti di seputaran Jawa Barat.

Di akhir track, genjoter disuguhin technical section genjot di kali mati yang berbatu. Gak tau apakah kalinya berair di musim hujan, yang jelas cukup menantang untuk dilibas. Akhirnya track finish di Pos Perhutani.


Berhubung gue belum punya peta topografi daerah di sekitar Serang - Cilegon, terpaksa detail track di-overlay dengan image Google Earth aja yah. Silahkan di-klik lalu di-save untuk yang pengen maen di sana.

Monday, September 18, 2006

Situ Lembang 16 September 2006


Wuihhhh..... panas di dada, sesak nafas, kerongkongan berlendir, mata berair, dll. Mungkin itulah yang dirasakan beberapa genjoter di 1 km pertama saat genjot ke Situ Lembang Sabtu kemaren, 16 September 2006. Gimana gak termehek-mehek, lha wong tanpa pemanasan langsung diberi sarapan tanjakan yang full nanjak terus. Malah karena udah frustasi duluan karena diberitahu nanjaknya 8 km, langsung deh seorang genjoter milih naik ojek ke arah Pintu Angin (udah Rp. 5 ribu, nawar lagi kekekeqqq). Walhasil doi keliru, nanjaknya cuman 3 km sampe Pintu Angin. Malah rugi besar karena gak ikut menikmati turunan hutan pinus yang aduhai tea'.

Begitulah permulaan cerita genjot di Situ Lembang week end kemaren. Ceritanya genjot ini sebagai genjot penutup sebelum memasuki bulan Ramadhan. Beberapa genjoter udah nginap semalam di Bandung, sekalian berubah wujud jadi bujangan semalam heheheh. Yang lainnya milih "tek-tok", istilah bagi yang datang pagi dan pulang sore ke dan dari Bandung. Tempat berkumpul di depan Univ. Advent Parongpong, cuman ditunggu sampe jam 7.30 koq pada belum nongol ya'? Ternyata ngumpulnya di warung "Anu Kuring" (lupa namanya euy), 1 km sebelum meeting point. Yah udah deh, balik badan graak ke sana deh. Begini nih kalo datang dengan para "bujangan", bangunnya aja jam 7 pagi (di hotel Setiabudi) padahal udah janji 7.30 di Parongpong Lembang. Nasib....nasib....


Parkiran Mobil - Pintu Angin – Camp Komando

Setelah parkir yang rada bribet buat sedan dan MPV, sepeda dibongkar dan mulai mempraktekkan Pre-Inspection Use. Lumayan, safety awareness-nya udah mulai naik nih. Rante diminyakin, RD & FD dicek, rem dites, ban diisi angin, handle bar dicek, dll. Ini semua berguna biar genjotnya aman dan bisa menikmati perjalanan. Siapa sih yang pengen dapat masalah pas lagi nikmat-nikmatnya genjot. Protector juga dipersiapkan, bekal untuk yang demen lari kenceng diturunan. Hati-hati tapi ya'.

Seperti di paragraf pertama, tanjakan sudah menanti sejak awal sampai 3 km pertama, paduan antara single track dan jalan berbatu. Untung ada hutan pinus, jadi ada kesempatan ngaso dan ngudut bentar. Rombongan yang dipimpin Pak Tim dari Camp Komando Situ Lembang cukup profesional menunggu teman-teman yang sudah mulai kehabisan nafas. 5 menit kemudian perjalanan dilanjut, TTB dikit kemudian disuguhin turunan di sela-sela pohon pinus. Nikmat banget rasanya nemu turunan.... Di ujung turunan ternyata lagi ada yang camping, banyak ceweknya lagi nyanyi-nyanyi. Seperti biasa, beberapa genjoter langsung beratraksi sambil TP-TP, tebar pesona maksupnye heheheh

Dari Pintu Angin ke Camp Komando gak terlalu berkesan. Paling waktu di hutan pinus doang, itupun slightly nanjak. Setelah itu motong keluar kanopi hutan masuk ke jalan berbatu, kadang nanjak kadang menurun, kebanyakan sih nanjak. Di tengah jalan sempat berfoto sejenak di beberapa plang penunjuk Camp Komando Situ Lembang. Tulisannya sangar-sangar euy, kayak masuk medan perang Bratayudha ajah. Untuk yang belum tahu Situ Lembang, daerah ini adalah arena penggonjlokan para calon Kopassus. Biasanya mereka latihan perang-perangan dan survival di sekitar lokasi ini. Selain dari Kopassus, daerah ini juga di gawangi oleh para Wanadri Senior yang ikut membantu om-om di Kopassus. Mangkanye izinnya gak sembarangan, gak boleh tabrakan dengan masa latihan. Untung ade Kang Cheppy dan Sanusi yang punya jaringan luas dengan para sesepuh Situ Lembang.

Kecewa banget waktu nyampe di Situ Lembang. Bukan genjotnya ato tanjakan, tapi dengan kondisi Situ yang lagi kering. Maklum lagi kemarau, permuakaan air Situ surut sampai-sampai bonggol-bonggol akar kayu nongol. Banyak orang yang manfaatin situasi ini, mereka turun ke danau untuk mancing ato sekedar maen air. Biasanya kedalaman bisa sampe 3-5 meter, kemaren semeter aja mungkin gak nyampe.

Genjoter langsung menuju ke Camp Komando buat makan siang. Pak Tim sudah bantu ngurusin makan yang tadi dibeli di warung Anu Kuring. Hebat nih makanannya naik ojeg karena kalo dibawa masing-masing pasti ngerepotin genjoter. Menunya tempe tahu plus ayam goreng dan sambel.... hhhmmmmm nyam nyam.

Outer Situ Lembang Ring Track

Kalo pernah dengar Jakarta Outer Ring Road, nah kemaren kami juga punya Situ Lembang Outer Ring Track, single track keliling Situ Lembang. Tracknya sangat menakjubkan, betul-betul genjot di bwah kanopi hutan tropis. Variatif sekali, kadang kudu TTB karena harus melewati rintangan pohon tumbang, sungai/creek kecil. Cuman ada satu syarat koq, harus dikawal oleh sesepuh Situ Lembang yang hapal track di luar kepala. Soalnya kalo nggak bisa tersesat. Pan lucu kalo milis MTB-Indonesia rame dengan berita orang hilang di Situ Lembang hihihih.

Lagi enak-enaknya genjot, dari jauh terdengar suara cekikikan. Ngeri juga, di tengah hutan koq ada cekikikan. Makin lama makin banyak, terus makin jadi seperti pasar malam. Ternyata lagi ada anak Nymphaea, mahasiswa dan mahiswi Jurusan Biologi ITB, yang lagi praktikum lapangan ngumpulin herbarium. Gue hapal banget karena warna jaketnya hampir sama persis dengan warna jaket himpunanku, GEA – Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ITB, waktu kuliah dulu.

Walaupun di tengah hutan perawan, sampah bertebaran di sana-sini bukan pemandangan yang aneh. Yang plastiklah, botol minuman bekas lah, sampe yang paling miris waktu ngeliat batu batere berkarat di dengan aliran sungai. Padahal Situ Lembang ini merupakan mata air sungai Cimahi yang mengalir ke kota Bandung dan Cimahi. Coba bayangkan gimana kalo toxic matter itu kebawa air dan dikonsumsi pendudu. Ini PR buat pengelola Situ lembang dan juga pengunjungnya. Keep Situ Lembang Clean, Euy !!!

Di ujung Utara Situ, genjoter berhenti sejenak untuk foto bareng di tangga kayu yang biasa dipake latihan Komando. Di kali kecil yang airnya bening juga berhenti buat foto-foto, disepakati untuk menuju ke mata air. Konon kabarnya mata air ini mujarab bagi untuk yang ingin umur panjang. Makanya beberapa genjoter bela-belain ke mata air tersebut, siapa tau khasiatnya emang bener. Who knows lha.... Setelah dari mata air, track kembali ke Camp Komando nggak terlalu sulit. Ada jalan berbatu koq, jalan ini juga dimanfaatin oleh motocross yang kebetulan lagi banyak-banyaknya hari itu. Mungkin mereka sedang gathering week end, sampe bawa tenda buat nginap lho.

Sempat ada incident kecil, ban gue bocor di turunan berbatu. Sempat loncat waktu ada drop off kecil, ehh malah kena snake bite. Untuk ada Kang Deni dan Idoel yang bantu ganti ban. Thanks a lot my men.

Situ Lembang – Parkiran Mobil

Udah jam 4 sore, udah waktunya balik. Pak Tim ngajakin lewat jalur yang berbeda. Asyik juga tracknya karena nurun terus sampe sungai kecil, nerobos hutan perdu, sesekali ketemu rombongan mahasiswi yang lagi di-ospek (kakak seniornya galak euy). Sehabis turunan diganjar dengan tanjakan ke Gerbang Komando. Lumayan berat kali ini karena fisik udah mulai menurun, TTB aja ah. Dari gerbang ngikutin jalan berbatu lagi yang dilewatin waktu naik ke Situ Lembang. Gak terlalu menarik. Setelah itu masuk ke turunan hutan pinus, ini yang menarik. Bisa zig-zag di sela-sela pohon, asyik pissan. Balapan terus sampe Pintu Angin.

Setelah pintu angin sebagian genjoter pengen ngelewatin tanjakan hutan pinus. Gue dan beberapa yang lain tetap milih lewat jalan berbatu. Ternyata nemu turunan asyik setelah portal, agak berdebu sih tapi cukup bisa memompa adrenalin yang sudah kendor. Sampai-sampai beberapa genjoter nyungsep saking exited-nya. Untung kena dado, kalo kena mato bisa buto heheheh.

Jam 5 tepat semuanya sampe di parkiran mobil. Ditutup dengan acara Kang Cheppy nyungsep pas di finish, udah uzur akang ...glek kikikiqqq

How To Get There

Situ Lembang bisa diakses dari Kampung Kertawangi, Kecamatan Parompong - Lembang. Kalo dari Lembang bisa ambil jalur Lembang-Cimahi lewat curug Cimahi, sekitar 2 km setelah Universitas Advent Indonesia ketemu Gerbang Komando di sisi kanan jalan. Ikutin aja jalan berbatu ke atas sampai nemu lapangan bola buat parkir mobil.

Bisa juga di-drop di Cikole, hutan pinus sebelum jalan masuk ke Tangkuban Perahu. Ikuti single track Cikole-Sukawana, entar setelah curug kecil belok ke kanan dan genjot ke atas sampe nemu Pintu Angin. Biasanya anak-anak Bandung All Mountain (BAM) lewat jalur ini, tapi jarang yang naik sampe ke Situ Lembang.

Lembar Utara
Lembar Selatan

Silahkan di-klik peta di atas lalu didownload untuk referensi genjot.

Tuesday, August 01, 2006

Genjot Malem (Nite Riding) Megamendung - Pondok Pemburu Gn. Pancar


Nampang sebelum turun gunung. Photo by Cak Nur.

Udah biasa genjot siang hari kan? Masih challenging nggak? Kalo nggak, coba deh sesekali genjot malem hari seperti yang dilakukan 30-an genjoter gila tantangan di akhir Juli 2006 kemaren. Ajakan dari Devin di email langsung disampaikan ke permaisuri di rumah, dan... alhamdulillah izinnya keluar coy. Trus bela-belain nyari Devin di arena lomba Puspitek biar bisa daftar duluan, dilanjutkan dengan servis si hitam di Bagusbike, biar lebih siap dong.

Hari "H" Sabtu 29 Juli jam 14.00, sepeda sudah di dalam mobil dan siap menuju ke Cipayung. Di tengah jalan baru keinget lampu ketinggalan di rumah. Nunggu deh di Bintaro, untung ada tukang ojeg di samping rumah yang mo nganterin. Sampe di Sentul, hujan turun dengan derasnya. Wah... bisa nggak jadi genjot nih. Hujan terus aja turun sampe sekitar jam 18.30, agak gerimis sih cuman udah cukup untuk naikin semangat. Ini pasti gara-gara DePe yang gak posting Waether Forecast di milis :)

Cipayung - Pondok Pemburu

Setelah cek-cek sepeda, pasang lampu, makan indomie, dan shooting pembukaan dengan RCTI, start dimulai sekitar jam 19.30 dengan peserta kurang lebih 30-an orang. Peserta termuda anaknya Om ramon yang baru kelas 3 SD, tertua Pak Joe yang sudah kepala 5, dan tergila si Dhani yang genjot dari Tanjung Barat - Megamendung - Pondok Pemburu pp., ediiaann :) Udara dingin dan agak gerimis, jalanan basah dan so pasti becek di single track. Sampe di perkampungan masih menurun, tapi setelah itu nggak ada ampun dihajar dengan tanjakan terus. Untung sempat berhenti sebentar ngeliat pemandangan dari puncak bukit. Wuiihh indah banget, kalo ada penyair pasti bisa jadi satu puisi nih saking mempesonanya gemerlap cahaya di bawah sana :)

Setelah dimanja sejenak di turunan aspal, perjalanan di lanjut lagi dengan tanjakan dan tanjakan. Pokoknya gak ada ampun deh. Untung aja malam hari jadi cuman tau 50 meter ke depan sehingga semangat nggak kendor karena masih berharap 50 meter berikutnya dijamu dengan turunan. Tapi itu semua hanya mimpi. Malah tanjakannya dipadukan dengan beberapa longsor yang perlu ketrampilan menggenjot, untung aja panitia udah antisipasi dengan memasang Police Line sewaktu survei sehingga peserta bisa genjot dengan aman.

Setelah nemu tanjakan tiada akhir Gn. Pancar, sekitar 2 km sebelum finish, ada incident kecil antara tulang kering si Putri dengan pedal sepedanyanya. Nggak tau kenapa doi masih hot aja pengen ngegenjot padahal yang lain TTB karena terjalnya track ditambah dengan medan yang berlumpur dan berbatu. Untung yang lain udah siap dengan betadine spray dan perban, dibatu dengan P3K oleh Wira. Yang laen sibuk ketawa ketiwi dibawah asuhan Mang Qesrek :) Kuat juga si Putri, doi gak mau berhenti. Apalagi waktu hampir kesusul Om Ramon dan anaknya, dengan susah payah sepeda didorong ke atas. Berat juga euy karena tanah udah lengket di ban.

Jam 11.30 semua peserta tiba di Pondok. Beberapa genjoter mandi malam (hiiii dingin), yang lain langsung menyerbu makan malam yang sudah menanti lama untuk disantap. Makan sup hangat malam-malam rasanya nikmat sekali. Habis itu ada games cuman gue udah ngantuk berat. Jam 2-an terbangun bentar menikmati konser grok-grok para peserta yang sudah kecapean, lumayan bisa menghalau binatang buas lah heheheh.

Pondok Pemburu - Cipayung

Jam 5.00 subuh bangun untuk shalat subuh, cuman koq gak terlalu dingin yah bila dibanding Puncak. Sehabis shalat mata masih ngantuk karena semalam tidur gak terlalu nyenyak. Yo wis, tancap lagi baring dibalik sleeping bag, ikutan konser ngorok yang sampe subuh masih berlanjut terus :)

Jam 7-an kebangun karena yang lain udah pada berkicau. Gosok gigi bentar terus ngikut yang lain bersihin sepeda. Astaga, ternyata rantai, FD, dan ban udah belepotan lupur semua. Untuk ada selang jadi bisa cepat bersihinnya. Nggak kayak yang lain bersihin sepeda sampe perlu masuk ke kali. Setelah sepeda bersih, nongkrong bentar sambil nunggu sarapan di depan tenda ngeliat beberapa genjoter yang lagi beraksi. Maklum coy ada kamera, biasanya sih boro-boro mo putar keliling lapangan kayak biantang sirkus :)

Nah... jam 08.00 tepat baru deh sarapannya datang. Manstaff sekali sarapan nasi goreng plus telor plus kerupuk di tengah alam raya. Para genjoer pada berebut, soalnya cukup lama juga euy nunggunya. Sehabis makan dilanjut acara games yang sudah disiapkan panitia. Pertama-tama ice breaking dengan permainan ram tam tam dan pemburu tupai. Kedua permainan ini cukup membuat genjoter terpingkal-pingkal. Dilanjutkan dengan beberapa permainan yang berhadiah souvenir dari sponsor, salah satunya adalah permainan sepeda lambat.

Tepat jam 10.00 semua genjoter udah pada siap turun gunung. Berpose sebentar di depan kamera, baru deh perjalanan pulang dimulai. Ternyata turunannya lumayan terjal. Untung naiknya malam hari jadi semangat nggak kendor karena tingginya track ketutup oleh pekatnya malam.

Dua kilometer pertama cukup membuat pegal pergelangan tangan akibat track yang berbatu. Di track ini jelas terlihat perbedaan full suspension dan hardtail. Pengguna fulsus melesat di depan sedang hardtailer bergerombol di urutan belakang. Mungkin takut "biji"nya pecah kali hihihihi. Section ini cukup lumayan, kayaknya turunan ini dijadikan obat pelipur lara sehabis nanjak semalam. Cuman edannya di tengah jalan ketemu bule 2 orang yang lagi ngos-ngosan nanjak ke Pondok Pemburu. Coba mereka ikut malamnya, pasti lebih rame ceritanya. Sempat berhenti sebentar di simpang arah Bukit Sentul, sekalian meregangkan tangan yang sudah mulai pegal.

Selanjutnya masuk ke single track yang lumayan flat. Di sisi kanan track ternyata banyak longsor yang tidak terlihat malam sebelumnya. Perlu sedikit technical skill untuk bisa melibas track ini dengan aman dan fun. Setelah itu disuguhin turunan yang lumayan bisa memompa adrenalin. Sampai-sampai Om Ramon, yang kebetulan jadi Leader, yang saking enaknya menikmati turunan lupa bahwa travel forknya hanya main sedikit saja. Akibatnya doi terjengkul waktu mau melibas bekas aliran air dan dengan sukses mencederai bahu kiri. Yah sudahlah, ini sudah resiko genjot sepeda gunung.

Perjalanan lanjut terus sementara beberapa genjoter dengan setia menemani Om Ramon sampai bantuan datang. Cukup panjang juga turunannya, kurang lebih 7 km. Sehabis itu masuk ke perkampungan, pasukan disambut teriakan anak kecil yang kadang ikutan lari di samping sepeda. Tidak lama pun pasukan tiba di Wisma Bharata. Hanya perlu 1 jam 15 menit untuk menyelesaikan perjalanan pulang ini. Itu pun sudah dengan berhenti di beberapa titik.

Thanks banget buat Panitia yang sudah bersusah payah mempersiapkan acara ini. Terutama buat Ramon, Devin, Ferry, Igrha, dll. yang gak bisa disebut satu per satu. Hampir bisa dibilang acaranya sukses berat. Paling untuk ke depan perlu dipikirkan mengenai perlu tidaknya ada paramedic yang ikut dalam rombongan biar bisa menolong genjoter yang cedera.

Lain kali undang-undang kita lagi yah.


Silahkan klik gambar disamping untuk peta resolusi tinggi.

Tuesday, July 11, 2006

JPG Track, here we come!!!


JPG Track, jalur besar (biru muda) dan kecil (pink). Thanks untuk Om Ozy untuk mapping track jalur kecil.

Track JPG ini hanya sepelemparan batu dari rumah gue, cuman butuh genjot on-road 30 menit udah sampe di sana. Letaknya tepat di antra Bintaro Sektor 9 (sekolah Jepang) dan BSD. Kalo lewat tol Pondok Indah - BSD entar tinggal keluar di BSD Lingkar Timur. Balik arah ke Utara dan mutar lagi setelah nemu Polsek BSD di sebelah kanan jalan. Nah, ikutin aja jalan berbatu di samping Polsek sampe nemu Jalur Pipa Gas (JPG). Kalo Sabtu minggu banyak genjoter yang nongkrong di warung Mpok Cafe, masuk track-nya barengan aja dengan mereka.

Enaknya masuk ke JPG pas 2 hari setelah hujan. Pas susunya, gak terlalu lengket dan juga kering-kering amat. Sebaiknya jangan masuk track kalo habis hujan semalam, tanahnya lengket banget dan jadinya sepeda gak bisa digenjot karena tanah nempel di ban ato nyangkut di v-brake. Mangkanye pake disc brake dong ahh...

Mpok Cafe - Sumur

Menurut para genjoter, JPG Track ini termasuk tipe Cross Country Track yang lebih adem dari Puncak & Puspitek, tetapi lebih sangar dari Cihuni Gading Serpong. Banyak obstacle yang bertebaran di sepanjang track yang bisa dipake untuk melatih ketrampilan menggenjot.

Track masih datar kalo genjot dari Mpok Cafe ke Pohon Bambu lewat Jalur Pipa. Karena sekarang udah nggak bisa motong Pohon Bambu lagi, udah dibangun pagar ama yang punya, majuan dikit 50 meter dan belok kanan di rumah-rumah penduduk yang nantinya tembus di belakang Pohon Bambu. Entar nemu area terbuka dan disuguhin dengan turunan pertama.

Di turunan pertama udah mulai pake skill, bukan otot doang. Siap-siap sehabis turunan di hadang dengan tanjakan, lalu turunan lagi. Setelah turunan terakhir posisi RD sebaiknya di gigi terbesar berhubung tanjakan berikutnya cukup terjal. Bisa digenjot koq, kecuali sehabis hujan kudu TTB karena licin. Grade-nya sampe sini level 2 lah.

Lanjut terus genjot di kebun orang, siap-siap dengan turunan level 3, soalnya sehabis turunan ada jembatan bambu kecil dan kudu hati-hati dengan patok beton di tengah track. Lanjut terus sampai tanjakan patah ke kanan. Sampai di atas disuguhin pemandangan lokasi track yang masih asri dikombinasikan dengan semak ilalang. Siap-siap dengan turunan Sumur setelahnya.

Di turunan sumur badan kudu condong ke belakang dan sebaiknya lebih banyak make rem belakang. Siap-siap dengan kombinasi turunan dan belok tajam ke kiri. Kalo gak siap bisa nyungsep ke sawah lho. Sehabis itu nanjak lagi yang lumayan terjal sampai lokasi istirahat di bahwa rindangnya daun bambu. Kenapa di sebut Sumur karena di sekitar tempat istirahat ada sumur penduduk. Silahkan mengambil nafas sejenak di sini. Jangan lama-lama biar semangatnya gak turun.

Sumur - Roller Coaster

Dari Sumur genjot melintasi hutan bambu nembus di jalan aspal. Belok kiri aja dan genjot yang kenceng biar gak keteteran di tanjakan jalan ini. Jangan keterusan, setelah tanjakan belok kanan masuk ke jalan setapak yang nembus ke kolam pemancingan. Hati-hati di jembatan bambu setelah pemancingan, pernah ada yang ban sepedanya terperosok ke sela-sela bambu jembatan, malah ada juga yang terpeleset masuk ke sungai karena licin sehabis hujan.

Setelah Pemancingan ada 2 laternatif, mau lewat jalur besar (warna biru muda di peta) ato lewat jalur kecil (warna pink). Kalo jalur besar belok kiri masuk ke pematang sawah setelah pemancingan. Kalo jalur kecil genjot terus melintasi jalan setapak di samping sawah, entar belok kanan dan masuk ke perumahan penduduk. Di sini ada pemancingan lagi, cuman lebih kecil dibanding yang pertama. Ikutin jalan setapak di bawah hutan bambu yang keluar di daerah persawahan. Siapkan keahlian bermain keseimbangan karena genjotnya di pematang sawah. Jangan sampe kecebur di sawah, entar bisa belepotan. Ikutin pematang sawah ke arah jembatan Kali Angke (baru tau kan nama kalinya), dan siap-siap dengan tanjakan kecil yang cukup terjal.

Belok ke kanan dan ikutan jalan setapak sampai ke hutan bambu. Di sinilah yang disebut Roller Coaster, jalurnya orang-orang yang masih punya nyali. Dimulai dengan turunan sedalam 5 meter kemudian dihajar dengan tanjakan setinggi 5 meter juga hanya dalam hitungan detik. Sebaiknya posisi RD dan FD di tengah biar gak loss power atau keentengan. Posisi badan pada saat turun condong ke belakang dan secepatnya diarahkan ke depan saat nanjak. Menurut gue Roller Coaster ini grade-nya 5. Kalo nyalinya ciut, silahkan ikutin jalur wisata di kiri Roller Coaster. Tapi liat gambar di samping dong, Si Putri aja punya nyali koq. Asyik kan Put?

Roller Coaster - Mpok Cafe

Kita lanjut terus ke Turunan "S". Turunan ini diawali dengan belokan ke kanan trus dibalas dengan belokan tajam ke kiri. Hati-hati dengan patok beton lagi di ujung turunan. Juga siap-siap nyungsep kalo habis hujan, tapi jangan nyungsep ke sungai yang ada tepat di samping turunan yah.... :)

Lanjut lagi lewat jalur tanjakan semak ilalang. Liat ekspresi Om Ozy dong yang cool banget waktu nanjak :) Tembusnya di SD Negri, belok ke kanan di samping lapangan bola lurus ke arah hutan bambu. Ketemu bambu masuk ke kanan dan siap-siap dengan drop off yang grade-nya lebih ringan dari Roller Coaster. Setelah hutan bambu, genjot terus sampe nembus jalan raya Bintaro - BSD. Ada yang ke kanan ikut Jalur Kecil langsung ke Mpok Cafe, ada juga yang belok kiri 50 meter terus masuk track off road di kanan jalan.

Track terakhir diawali tanjakan kecil di sela-sela kebon singkong. Belok kanan dan lurus terus sampai ketemu Jalur Pipa yang ada Track BMX-nya. Kalo gak pengen ajrut-ajrutan gaya BMX-er, lanjut aja ke kanan ke arah Mpok Cafe ngikutin Jalur Pipa. Hati-hati di jembatan besi, sangat licin kalo lagi basah dan bisa bikin terjungkal masuk sungai. Terus bonus terkahir adalah tanjakan yang lumayan panjang, sekitar 500 meter, sampai finish di Mpok. Istirahat deh sambil senyam-senyum seperti genjoter happy family ini.

Total panjang Track Besar sekitar 6 km, bisa ditempuh 30-60 menit tergantung cuaca dan kondisi track.